JARINGAN PEMUDA PENGGERAK POSDAYA
Tanggal: 03 Aug 2009
Laporan: Prof Dr Haryono Suyono
 
Minggu lalu Rektor Universitas Diponegoro, Prof. Dr. dr. Susilo Wibowo, MS, Med, Sp. And., menggelar pertemuan penggerak Posdaya di Jawa Tengah. Hadir dalam pertemuan itu koordinator Posdaya dari lingkungan Universitas Diponegoro, wakil-wakil Kepala SMA yang bergabung dalam kegiatan pemberdayaan, anak-anak keluarga kurang mampu yang bergabung dalam proses pemberdayaan, tenaga-tenaga sukarela, bank, serta lembaga keuangan lain dan asuransi yang selama ini memberi dukungan pada upaya yang dikoordinasikan melalui Posdaya.
Dalam pertemuan itu Rektor Universitas Diponegoro, yang diwakili Pembantu Rektor IV, Dr. Muh Nur, DEA, memberikan pengarahan agar upaya Lokakarya Manajemen yang diadakan ini membantu para Kepala Sekolah dan guru-gurunya makin mampu meningkatkan mutu sekolah. Dengan peningkatan mutu sekolah, pengalaman kerjasama selama ini yang telah meningkatkan cakupan kelulusan, dapat lebih dipacu lagi dengan kualitas lulusan yang lebih baik. Angka rata-rata kelulusan yang bisa meningkat melebihi angka 90 – 99 persen hendaknya dapat diikuti dengan pemerataan pendidikan, yaitu selisih nilai antara nilai terbaik dan nilai lainnya tidak terlalu tinggi.
Disamping itu diharapkan para guru dan siswa bisa membantu masyarakat dan keluarga kurang mampu, atau keluarga yang tertinggal di pedesaan melakukan upaya pemberdayaan dengan tulus serta memperhatikan kultur setempat dengan baik. Upaya berbagai Perguruan Tinggi, menempatkan mahasiswa dan para dosen pembimbing dalam kegiatan KKN perguruan tinggi, khususnya yang berasal dari Universitas Diponegoro, yang dikenal baik oleh masyarakat Jawa Tengah, hendaklah diterima sebagai upaya mahasiswa berbaur bersama masyarakatnya di pedesaan. Universitas Diponegoro, biarpun berada di Jawa Tengah, tetapi mahasiswanya berasal dari berbagai penjuru negeri memungkinkan para mahasiswa menyerap budaya dan aspirasi masyarakat untuk membangun rasa persatuan dan kesatuan. Budaya bersatu ini akan memberi bumbu yang sangat nyaman untuk memupuk rasa percaya diri bangsa bahwa kita berbeda tetapi sesungguhnya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Kita anak bangsa yang saling peduli terhadap sesama. Perguruan tinggi bukan menara gading, tetapi benar-benar ikut membaur bersama rakyat membangun Jawa Tengah dan negara kesatuan RI yang sangat kita cintai. Universitas Diponegoro membangun keluarga di pedesaan dan keluarga lain yang masih tertinggal.
Ikut juga memberi sambutan pada pertemuan itu Dr. Ir. Wayan Sukarya Dilaga, MS, yang selama ini bekerja keras membantu para guru dan Kepala SMA membangun sekolahnya menjadi sekolah paripurna yang bermutu dan unggul melalui penambahan pengalaman para guru dan dengan mengambil beberapa anak dari keluarga kurang mampu diajak mengikuti gerakan pemberdayaan dan magang pada usaha ekonomi produktif di daerahnya. Melalui program yang dikoordinasikan, para guru diajak meninjau beberapa sekolah lain yang mempunyai mutu lebih tinggi. Kalau perlu sebagian dari para guru itu diajak magang untuk melihat praktek mengajar dan mengelola program di sekolah tersebut. Melalui program itu para guru mendapat kesempatan menimba ilmu dari rekan-rekan mereka di sekolah yang dianggap maju tersebut. Para guru memperoleh tambahan “kursus kilat” tentang berbagai mata pelajaran yang dianggap penting untuk mengirim siswanya mengikuti ujian untuk melanjutkan sekolah pada pendidikan tinggi.

Program yang dibantu oleh Yayasan Damandiri selama beberapa tahun tersebut telah berhasil memberi nilai tambah kepada Kepala Sekolah, guru dan siswa anak keluarga kurang mampu yang terpilih. Dalam kesempatan silaturahmi minggu lalu Prof. Haryono Suyono, Ketua Yayasan Damandiri, memberi tambahan ajakan kepada para guru dan siswa terpilih untuk mulai membaur dengan Posdaya di sekitar sekolah atau di dekat rumahnya. Ajakan ini merupakan bagian dari upaya membangun Jaringan Anak Muda Pembangun Bangsa (Jambang Bangsa) yang bertujuan untuk memberi pelatihan praktek kepada anak muda sejak dini membangun budaya kerja keras, pantang mundur dan langsung berhadapan dengan kenyataan lapangan. Anak muda, siswa SMA dan mahasiswa, diajak mengenal persoalan lapangan dan bersama anggota Posdaya mencoba mencari pemecahan dari persoalan lapangan itu secara mandiri.

Ajakan kepada anak-anak SMA itu dilakukan sejalan dengan kegiatan KKN Tematik Posdaya yang pada waktu ini sedang marak berkembang di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Universitas Diponegoro akan melakukan KKN Tematik Posdaya itu di berbagai kabupaten dan kota, sehingga dalam kontek tersebut para siswa dan mahasiswa akan bekerja sama membentuk, membantu membuat perencanaan kegiatan, mendampingi pengisian kegiatan dan akhirnya mencatat dengan cermat perkembangan dari upaya perubahan sosial dan pembudayaan kerja keras, cerdas dan sejahtera tersebut.

Untuk keperluan tersebut para guru pendamping, para siswa terpilih dan siswa lain yang ingin mengikuti gerakan pembangunan pedesaan tersebut akan memperoleh pelatihan dan contoh-contoh praktek serta kesempatan praktek di desa atau kampung di sekitar sekolah atau di dekat rumah masing-masing. Dengan cara demikian maka anak-anak muda itu dapat mengikuti kegiatan setelah pulang sekolah atau pada hari-hari libur atau hari Sabtu dan Minggu. Upaya ini akan merupakan kegiatan lapangan yang menarik dan menempatkan generasi muda sebagai aset bangsa yang luar biasa.

Ajakan tersebut ternyata mendapat sambutan yang antusias. Setelah memberikan pidato sambutan pada acara tersebut, Prof. Haryono mendapat usulan spontan untuk menjawab beberapa pertanyaan tehnis, baik tentang pembentukan Posdaya maupun peran para guru di luar sekolahnya, yaitu di kampung-kampung yang mungkin akan didatangi oleh mahasiswa KKN. Ada pula yang menanyakan apakah para guru dan siswa boleh membentuk Posdaya di kampungnya. Mendengar antusiasme tersebut Prof Haryono justru menantang para Kepala Sekolah, guru dan siswa-siswa yang hadir dalam pertemuan tersebut untuk berlomba membangun keluarga di desa masing-masing.

Diingatkan agar upaya ini dilaporkan kepada Kepala Desa agar tidak dianggap upaya ilegal yang bisa dilarang. Tetapi upaya baik membangun budaya gotong royong tersebut harus menjadi jiwa dan budaya bangsa yang lestari. Karena itu para Kepala Sekolah, guru dan masyarakat setempat harus bisa menjadikan kegiatan ini suatu kegiatan yang mandiri, bukan proyek pemerintah atau siapapun juga yang dituntut honor atau dananya dari pemerintah. Insya Allah. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Mantan Menko Kesra RI).
 
 
   
 
>> MEMBANGUN KARAKTER ANAK BANGSA
>> UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG SIAPKAN PEMBERDAYAAN RAKYAT
>> MEMBANGUN KEBERSAMAAN KELUARGA
>> BELAJAR KE NEGERI JEPANG
>> KKN TEMATIK POSDAYA MULAI DARI IPB
>> ANAK INDONESIA PERLU PEMERATAAN KREATIFITAS
>> EKONOMI KERAKYATAN, MEMBERDAYAKAN RAKYAT UNTUK MAJU
>> MEMBERDAYAKAN RAKYAT DENGAN TANGGUNG JAWAB RENTENG
>> NYESEL MASALAH KEPENDUDUKAN DIABAIKAN
>> TANTANGAN PEMBANGUNAN MASA DEPAN
>> MAU DIBAWA KEMANA KELUARGA INDONESIA?
>> HARI KELUARGA DAN PEMBANGUNAN KELUARGA
>> JANGAN NYESEL KALAU BELUM KEDAFTAR LAGI
>> LANSIA SEBAGAI KEKUATAN PEMBANGUNAN
>> SUPERSEMAR AWARDS PERINGATI HARI LAHIR PAK HARTO
  
 
 




Home | Profil | Kontak Kami | Buku Tamu
Redaksi Damandiri : redaksi@damandiri.or.id
Copyright © 2003 Damandiri.or.id
designed by Gemari Online
Streaming Radio DFM Jakarta

Gemari Online