PEMANFAATAN IKAN KAKAP MERAH (Lutjanus sp.) DENGAN BUBU DI PERAIRAN MEMPAWAH HILIR, KABUPATEN PONTIANAK
Tanggal: 18 Feb 2008
Laporan: ISKANDAR ZULKARNAEN
 
Keragaan alat tangkap bubu untuk menangkap ikan kakap merah di Mempawah Hilir cukup beragam, terdiri dari bubu bambu dan bubu jaring. Pada pengoperasiannya bubu bambu di rendam selama empat hari sedangkan bubu jaring di rendam selama tiga hari. Hingga saat ini, belum diketahui berapa lama perendaman yang efektif untuk menangkap ikan kakap merah di antara kedua jenis bubu dan tingkat pendapatan usaha perikanan bubu di Mempawah Hilir.
Penelitian ini bertujuan untuk melakukan: menentukan komposisi hasil tangkapan bubu, menentukan lama perendaman yang efektif untuk menangkap ikan kakap merah pada kedua jenis bubu dan menentukan tingkat R/C Ratio untuk mendapatkan usaha perikanan bubu yang menguntungkan.
Ikan-ikan tujuan penangkapan pada operasi penangkapan menggunakan bubu adalah Lutjanus sanguineus, Lutjanus johni dan Pomadasys sp. Bubu bambu dan bubu jaring yang digunakan selama penelitian di Mempawah Hilir sangat selektif untuk menangkap ikan-ikan tujuan penangkapan, baik berdasarkan komposisi jumlah (individu) maupun bobot (gr). Komposisi bobot (gr) hasil tangkapan pada bubu bambu didominasi oleh ikan-ikan tujuan penangkapan sebesar 91%, sedangkan komposisi bobot (gr) hasil tangkapan pada bubu jaring juga didominasi oleh ikan-ikan tujuan penangkapan sebesar 95%.

Oleh:
ISKANDAR ZULKARNAEN
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2007


COVER
RIWAYAT HIDUP
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN

1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pemanfaatan sumberdaya perikanan, khususnya perikanan laut (tangkap), sampai saat ini masih didominasi oleh usaha perikanan rakyat yang umumnya memiliki karakteristik; skala usaha kecil, aplikasi teknologi yang sederhana, jangkauan operasi penangkapan yang terbatas di sekitar pantai dan produktivitas yang relatif masih rendah. Menurut Barus et al. (1991), produktivitas nelayan yang rendah umumnya disebabkan oleh rendahnya keterampilan dan pengetahuan serta penggunaan alat penangkapan maupun perahu yang masih sederhana, sehingga efektifitas dan efisiensi alat tangkap dan penggunaan faktor-faktor produksi lainnya belum optimal. Keadaan ini sangat berpengaruh terhadap pendapatan yang diterima oleh nelayan dan akhirnya berpengaruh juga pada tingkat kesejahteraannya.

1.2 Perumusan Masalah
1.3 Tujuan dan Manfaat
1.4 Hipotesis

2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
2.1.1 Kondisi Geografis dan Administrasi
Kabupaten Pontianak adalah salah satu dari 12 daerah kabupaten/kota yang ada di Propinsi Kalimantan Barat. Secara geografis Kabupaten Pontianak terletak pada 0 44' Lintang Utara dan 1 00' Lintang Selatan, serta diantara 108 24' Bujur Timur dan 109 00' Bujur Timur.
Secara administratif Kabupaten Pontianak pada tahun 2005 berbatasan dengan :
Sebelah Utara Kabupaten Bengkayang
Sebelah Selatan Kabupaten Ketapang
Sebelah Barat Laut Natuna
Sebelah Timur Kabupaten Landak
2.1.2 Curah Hujan
2.1.3 Penduduk
2.1.4 Pendidikan
2.1.5 Kondisi Perikanan Tangkap
2.2 Deskripsi Ikan
2.2.1 Morfologi Kakap Merah
2.2.2 Makanan dan Kebiasaan Makan
2.2.3 Sifat Hidup dan Pemijahan
2.2.4 Habitat dan Penyebaran
2.3 Alat Tangkap Perangkap (Traps)
2.3.1 Alat Tangkap Bubu (Pots)
2.3.2 Pengoperasian Bubu Kakap
2.4 Teknik Penangkapan yang Diterapkan
2.5 Capaian Penelitian Bubu sebelumnya
2.6 Analisis Kriteria Investasi

3 METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Perairan Mempawah Hilir Kabupaten Pontianak Propinsi Kalimantan Barat, yang merupakan salah satu daerah penghasil ikan kakap merah sepanjang tahun selama kurun waktu 1995 hingga sekarang. Penelitian dilaksanakan selama delapan bulan, mulai dari tahap persiapan penelitian sampai pada tahap penyelesaian dan ujian akhir, sedangkan penelitian lapangan dilaksanakan pada bulan Maret hingga April 2007. Lokasi penelitian lapangan pada posisi 013 - 025 LU dan 10847 - 10852 BT (Lampiran 1).

3.2 Alat dan Bahan Penelitian
3.3 Metode Penelitian
3.4 Metode Pengumpulan Data
3.5 Analisis Data
3.5.1 Komposisi Hasil Tangkapan
3.5.2 Lama Perendaman dan Jenis Bubu yang Efektif
3.5.3 Pendapatan Usaha

4 HASIL
4.1 Unit Penangkapan Ikan
4.1.1 Kapal
Jumlah perahu/kapal yang beroperasi di Kecamatan Mempawah Hilir terdiri dari 124 perahu/kapal tanpa motor, 376 motor tempel, 60 kapal motor 0-5 GT dan 39 kapal motor > 5 GT (Kecamatan Mempawah Hilir, 2006). Kapal motor yang digunakan pada perikanan bubu memiliki kapasitas antara 0-5 GT, panjang kapal 8-10 m, lebar 2-3 m dan dalam 1-1,5 m, rata-rata menggunakan bahan dasar kayu. Kapal yang digunakan selama penelitian berkapasitas 3 GT, panjang kapal 10 m, lebar 2,85 dan dalam 1 m (Gambar 8). Kapal tersebut menggunakan mesin berkekuatan 22 HP/2200 RPM, model ZS 1110, merk Shanhai, bobot 210 kg, bahan bakar solar dengan harga beli (second) sebesar 6,7 juta pada tahun 2007.
4.1.2 Alat Tangkap
4.1.3 Nelayan / Anak Buah Kapal (ABK)
4.2 Metode Pengoperasian Bubu
4.3 Komposisi Hasil Tangkapan
4.4 Pengaruh Lama Perendaman dan Jenis Bubu terhadap Hasil
Tangkapan
4.4.1 Analisis Deskripsi Lama Perendaman dan Jenis Bubu
4.4.2 Analisis Statistik Lama Perendaman dan Jenis Bubu
4.5 Analisis PendapatanUsaha
4.5.1 Biaya Pengoperasian
4.5.2 Harga Ikan dan Jumlah Penerimaan
4.5.3 Pendapatan Usaha
5.6 Sistem Bagi Hasil

5 PEMBAHASAN

5.1 Komposisi Hasil Tangkapan
Kegiatan penangkapan ikan oleh nelayan bubu di Kecamatan Mempawah Hilir, Kabupaten Pontianak ditujukan untuk menangkap ikan kakap merah (Lutjanus sanguineus), ikan tambangan (Lutjanus johni) dan ikan gerot-gerot (Pomadasys sp), yang merupakan ikan ekonomis penting dengan harga yang cukup tinggi. Hal ini dibuktikan dengan penelitian yang telah dilakukan menggunakan bubu bambu dan bubu jaring dengan perbedaan lama perendaman, diperoleh hasil tangkapan berupa: ikan kakap merah (Lutjanus sanguineus), ikan tambangan (Lutjanus johni), ikan gerot-gerot (Pomadasys sp.), ikan kerapu (Epinephelus tauvina), ikan gulamah (Seudociena sp.) dan ikan Gebel (Platax sp.) serta udang barong (Panulirus sp.).

5.2 Pengaruh Lama Perendaman dan Jenis Bubu terhadap Hasil Tangkapan
5.3 Pendapatan Usaha
5.3.1 Harga Ikan
5.3.2 Penerimaan
5.3.3 Pendapatan Usaha

6 KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Komposisi bobot (gr) hasil tangkapan pada bubu bambu didominasi oleh species target sebesar 91%, terdiri dari ikan tambangan (58%), ikan gerot-gerot (18%) dan ikan kakap merah (15%), sedangkan komposisi bobot (gr) hasil tangkapan pada bubu jaring juga didominasi oleh species target sebesar 95%, teridiri dari ikan tambangan (45%), ikan gerot-gerot (27%) dan ikan kakap merah (23%),

Kedua jenis bubu dengan lama perendaman lima hari efektif menangkap ikan kakap merah sebesar 7.350 gr; bubu bambu dengan lama perendaman empat hari efektif menangkap ikan tambangan sebesar 36.100 gr lebih tinggi dari bubu jaring dengan lama perendaman empat hari sebesar 20.900 gr.

6.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN
 
 
   
 
>> PURIFIKASI DAN KARAKTERISASI PROTEASE DARI EKSKRETORI/SEKRETORI STADIUM L3 Ascaridia galli DAN PENGARUHNYA TERHADAP PERTAHANAN DAN GAMBARAN HISTOPATOLOGI USUS HALUS AYAM PETELUR
>> PENGARUH KEMAMPUAN PEMBELAJARAN ORGANISASI TERHADAP KOMPETENSI, TINGKAT DIVERSIFIKASI DAN KINERJA PERGURUAN TINGGI SWASTA DI SUMATERA UTARA
>> PERBAIKAN KAMPUNG KOMPREHENSIF DAN DAMPAKNYA TERHADAP KESEJAHTERAAN SOSIAL SERTA KEMANDIRIAN MASYARAKAT MISKIN KAMPUNG KUMUH DI KOTA SURABAYA
>> PERBEDAAN BUDAYA DAN ADAPTASI ANTAR BUDAYA DALAM RELASI KEMITRAAN INTI-PLASMA (Studi tentang Komunikasi Antar Budaya: Kasus Kemitraan antara Perusahaan Inti dan Petani Plasma di Perusahaan Teh PT Pagilaran)
>> CIRCULAR MIGRATION OF FEMALE WORKERS TO ABROAD: A STUDY ON MIGRATION DECISION MAKING PROCESSES BY FEMALE FROM EAST JAVA VILLAGES
>> PENGARUH ECONOMIC CONTENT, RESOURCE CONTENT DAN SOCIAL CONTENT TERHADAP KEPERCAYAAN, KEPUASAN, DAN KOMITMEN SERTA RELATIONSHIP INTENTION DEBITUR BANK SUMUT DI SUMATERA UTARA
>> DIMENSI TEGAKAN DAN PENGARUH PEUBAH TEMPAT TUMBUH TERHADAP PRODUKSI DAMAR MATA KUCING (Shorea javanica K. et. V.) DI KRUI LAMPUNG BARAT
>> EFEK PENCEMARAN PERAIRAN SUNGAI KAMPAR DI PROVINSI RIAU TERHADAP IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus)
>> PENAMPILAN REPRODUKSI INDUK IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus Blkr) DENGAN PEMBERIAN PAKAN BUATAN YANG DITAMBAHKAN ASAM LEMAK N-6 DAN N-3 DAN DENGAN IMPLANTASI ESTRADIOL-17B DAN TIROKSIN
>> PERBAIKAN TANAH MEDIA TANAMAN JERUK DENGAN BERBAGAI BAHAN ORGANIK DALAM BENTUK KOMPOS
>> DAMPAK KEBERADAAN IPB TERHADAP EKONOMI MASYARAKAT SEKITAR KAMPUS DAN KONTRIBUSINYA TERHADAP PEREKONOMIAN KABUPATEN BOGOR
>> IMPLEMENTASI PROGRAM KELUARGA BERENCANA NASIONAL ERA DESENTRALISASI DI PROVINSI SUMATERA UTARA
>> KAJIAN PENAMPILAN REPRODUKSI IKAN LELE (Clarias gariepinus) BETINA MELALUI PENAMBAHAN ASCORBYL PHOSPHATE MAGNESIUM SEBAGAI SUMBER VITAMIN C DAN IMPLANTASI DENGAN ESTRADIOL-17B
>> PENAPISAN GENOTIPE DAN ANALISIS GENETIK KETAHANAN PEPAYA TERHADAP PENYAKIT ANTRAKNOSA
>> MODEL PENGENDALIAN PENCEMARAN PERAIRAN DI DANAU MANINJAU SUMATERA BARAT
  
 
 




Home | Profil | Kontak Kami | Buku Tamu
Redaksi Damandiri : redaksi@damandiri.or.id
Copyright © 2003 Damandiri.or.id
designed by Gemari Online
Streaming Radio DFM Jakarta

Gemari Online