PENGENDALIAN HAMA BELALANG KEMBARA (Locusta migratoria) DENGAN MENGGUNAKAN GELOMBANG ULTRASONIK DI KALIMANTAN BARAT
Tanggal: 05 Oct 2005
Laporan: STEPANUS SAHALA SITOMPUL
 
Belalang kembara dalam kehidupannya berjalan, berpindah dan berputar dengan menggunakan kaki serta terbang dengan menggetarkan sayap. Belalang kembara memiliki alat indra mata, telinga dan kumis yang digunakan sebagai antena. Alat indra tersebut berfungsi untuk mengatur sistem perpindahan, informasi serta komunikasi antara belalang kembara jantan dan betina dalam perkembangbiakannya. Berdasarkan pengamatan dan literatur komunikasi sesama belalang kembara ini berada pada rentang frekuensi puluhan kilo hertz dan merupakan jenis gelombang ultrasonik.
Gelombang ultrasonik (Ultrasonic waves) merupakan gelombang mekanik longitudinal dengan frekuensi di atas 20 kHz yaitu daerah batas pendengaran manusia. Gelombang ultrasonik dapat merambat dalam medium padat, cair dan gas. Hal ini disebabkan karena gelombang ultrasonik merupakan rambatan energi dan momentum mekanik, rambatan energi ini berinteraksi tergantung pada molekul dan sifat inersia medium yang dilaluinya.

Oleh:
STEPANUS SAHALA SITOMPUL
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2005

SAMPUL DEPAN
Sampul Dalam
Prasyarat Gelar
Persetujuan
Penetapan Panitia
Ucapan Terima Kasih
Ringkasan
Summary
Abstract
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
DAFTAR ISTILAH

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Penelitian
Indonesia merupakan negara berkembang yang terletak di daerah tropis dengan dua musim yaitu; musim kemarau dan musim penghujan, mempunyai prioritas yang diarahkan kepada sektor pertanian dalam orientasi pertumbuhan ekonomi penduduknya (Anwar, 1994). Beberapa daerah di Indonesia yang mengandalkan sektor pertanian dalam perekonomian wilayahnya, kadang-kadang mengalami kegagalan di sektor pertanian.
1.2 Rumusan Masalah Penelitian
1.3 Tujuan Penelitian
1.4 Manfaat Penelitian

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Gelombang Bunyi (Akustik)
2.1.1 Pengertian gelombang bunyi (Akustik)
Gelombang bunyi adalah gelombang yang dirambatkan sebagai gelombang mekanik longitudinal yang dapat menjalar dalam medium padat, cair dan gas. Medium gelombang bunyi ini adalah molekul yang membentuk bahan medium mekanik ini (Sutrisno, 1988). Gelombang bunyi ini merupakan vibrasi/getaran molekul-molekul zat dan saling beradu satu sama lain namun demikian zat tersebut terkoordinasi menghasilkan gelombang serta mentransmisikan energi bahkan tidak pernah terjadi perpindahan partikel (Resnick dan Halliday , 1992).
2.1.2 Pengertian gelombang ultrasonik
2.1.3 Energi dan intensitas gelombang ultrasonik
2.1.4 Intensitas gelombang ultrasonik dihubungkan dengan amplitudo dan frekuensi
2.1.5 Intensitas gelombang ultrasonik dihubungkan dengan jarak
2.1.6 Sifat gelombang ultrasonik
2.1.7 Gelombang ultrasonik terhadap efek temal
2.1.8 Gelombang ultrasonik terhadap efek kavitasi
2.1.9 Gelombang ultrasonik terhadap efek mekanik..
2.2 Gelombang Bunyi Pada Insekta/Serangga
2.2.1 Sistem pendengaran
2.2.2 Komunikasi insekta/serangga
2.2.3 Komunikasi insekta/serangga dengan gelombang bunyi
2.2.4 Rentang frekuensi gelombang bunyi pada insekta/serangga
2.3 Morfologi Belalang Kembara
2.3.1 Struktur tubuh belalang kembara
2.3.2 Perilaku/Etimologi belalang kembara
2.3.3 Siklus hidup dan perkembangbiakan dari belalang kembara
2.3.4 Ekologi belalang kembara
2.4 Pengendalian Hama Belalang
2.5 Rangkaian Listrik
2.5.1 Sumber tenaga (Power supply)
2.5.2 Sistem adaptor memakai lebih dari satu buah dioda dengan transformator CT
(Center Tap)
2.5.3 Pembangkit frekuensi memakai transistor dengan prinsip dasar flip-flop Model rangkaian listrik sebagai pembangkit frekuensi yang menggunakan rangkaian terpadu /IC (Integrad Circuits)
2.6 Landasan Empiris
2.6.1 Efek biologis gelombang ultrasonik
2.6.2 Mekanisme interaksi gelombang ultrasonik dalam medium

BAB 3. KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN
3.1 Kerangka Konseptual Penelitian
Pendekatan Biofisika mempunyai potensi untuk dapat dikembangkan sebagai pengendalian hama belalang kembara yang memenuhi aspek ramah lingkungan dan tidak tercemar. Pendekatan tersebut adalah pengendalian secara mekanis/fisika di samping pengendalian hama secara biologi dan kimia yaitu penggunaan gelombang ultrasonik untuk mempengaruhi pola perilaku belalang kembara.
Gelombang ultrasonik merupakan gelombang mekanik longitudinal dengan frekuensi di atas 20 kHz dan mentrasmisikan energi dalam perambatannya. Gelombang ultrasonik pada frekuensi 60 kHz merupakan batas yang dapat didengar oleh makluk hidup, di atas frekuensi tersebut gelombang ultrasonik ini tidak dapat didengar lagi bunyinya. Insekta/serangga pada umumnya menggunakan gelombang ultrasonik untuk berkomunikasi dalam rentangan frekuensi 20 kHz sampai 60 kHz. Komunikasi ini dilakukan untuk mengetahui perubahan informasi dan mendeteksi lokasi dari suatu objek. Gelombang ultrasonik yang diterima insekta/serangga dapat menghasilkan bermacam-macam tanggapan yang meliputi; daya tarik seks, pertahanan wilayah, tanda bahaya, dan perubahan lintasan terbang untuk mempertahankan kelompoknya
3.2 Hipotesis Penelitian

BAB 4. METODE PENELITIAN
4.1 Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian adalah eksperimental laboratoris dengan perlakuan berupa rangsangan gelombang ultrasonik terhadap belalang kembara. Gelombang ultrasonik frekuensi rendah adalah gelombang ultrasonik yang masih dapat mengeluarkan bunyi (20 kHz 60 kHz) dan dapat didengar oleh pusat pendengaran insekta/serangga.
4.2 Desain Eksperimental Penelitian
4.2.1 Perlakuan penelitian
4.2.2 Model rancangan eksperimental Penelitian
4.3 Populasi Dan Sampel Penelitian
4.4 Variabel Penelitian
4.5 Bahan Dan Alat Penelitian
4.6 Jenis Penelitian Dan Ruang Lingkup Penelitian
4.7 Lokasi Dan Waktu Penelitian
4.8 Metode Pengumpulan Data Penelitian
4.8.1 Metode observasional penelitian
4.8.2 Metode eksperimental penelitian
4.9 Prosedur Penelitian
4.10 Analisis Data Penelitian
4.11 Kerangka Operasional Penelitian

BAB 5. HASIL PENELITIAN
5.1 Pembangkit Gelombang Ultrasonik
Pembangkit gelombang ultrasonik adalah alat untuk memamcarkan gelombang ultrasonik. Fungsi pemancar (transmiter) adalah melepaskan pulsa-pulsa listrik kearah sensor kristal pioze electric di dalam transduser sehingga mengakibatkan transmisi paket gelombang ultrasonik di dalam pancarannya (Ackerman et al., 1988).
5.2 Pengaruh Pemaparan Gelombang Ultrasonik Terhadap Pola Perilaku Belalang Kembara
Pengaruh frekuensi gelombang ultrasonik terhadap pola perilaku makan pasif
belalang kembara
Pengaruh jarak sumber gelombang ultrasonik terhadap pola perilaku makan pasif
belalang kembara
Pengaruh lama pemaparan gelombang ultrasonik terhadap pola perilaku makan pasif
belalang kembara
Pengaruh kombinasi frekuensi, jarak sumber dan lama pemaparan gelombang ultrasonik terhadap pola perilaku makan pasif belalang kembara
Pengaruh frekuensi gelombang ultrasonikterhadap pola perilaku gerak pasif
belalang kembara
Pengaruh jarak sumber gelombang ultrasonik terhadap pola perilaku gerak pasif
belalang kembara
Pengaruh lama pemaparan gelombang ultrasonik terhadap pola perilaku gerak pasif
belalang kembara
Pengaruh kombinasi frekuensi, jarak sumber dan lama pemaparan gelombang ultrasonik terhadap pola perilaku gerak pasif belalang kembara

BAB 6. PEMBAHASAN
6.1 Pembangkit Gelombang Ultrasonik
Hama belalang kembara merupakan suatu masalah yang banyak menimbulkan kerugian di sektor pertanian. Serangan hama belalang kembara ini berdampak terhadap kehidupan petani di beberapa daerah di Indonesia. Oleh karena itu, upaya pengendalian hama belalang kembara perlu ditingkatkan cara mengatasinya supaya penghasilan ekonomi di sektor pertanian ini tidak tertinggal dengan daerah-daerah di Indonesia lainnya.
6.2 Pemaparan Gelombang Ultrasonik Terhadap Pengamatan Pola Perilaku Makan Pasif Dan Gerak Pasif Belalang Kembara

BAB 7. SIMPULAN DAN SARAN
7.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian, analisis data dan pembahasan tentang pengaruh pemaparan gelombang ultrasonik terhadap pola perilaku makan pasif dan gerak pasif belalang kembara di laboratorium, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Frekuensi gelombang ultrasonik dapat menimbulkan perubahan pola perilaku makan pasif dan gerak pasif akibat efek termal, efek kavitasi dan efek mekanik yang terjadi pada struktur jaringan sel belalang kembara. Frekuensi 50 kHz memberikan pengaruh yang bermakna (P < 0.05) dengan jarak sumber dan lama pemaparan gelombang ultrasonik tetap. Pada pola perilaku makan pasif memberikan nilai optimal 84,79 % dan pola perilaku gerak pasif memberikan nilai optimal 66,46 % dan berbeda bermakna dengan frekuensi lainnya.
7.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1: Perlakuan gelombang ultrasonik terhadap pola perilaku makan pasif dan gerak pasif belalang kembara
Tabel 5.1: Transmisi dan refleksi gelombang ultrasonik pada bidang batas udara dan air (Jaringan lunak).
Tabel 5.2: Pengaruh frekuensi pemaparan gelombang ultrasonik terhadap rata-rata persentasi pola perilaku makan pasif belalang kembara
Tabel 5.3: Pengaruh jarak sumber pemaparan gelombang ultrasonik terhadap rata-rata persentasi pola perilaku makan pasif belalang kembara
Tabel 5.4: Pengaruh lama pemaparan gelombang ultrasonik terhadap rata-rata persentasi pola perilaku makan pasif belalang kembara
Tabel 5.5: Pengaruh kombinasi frekuensi, jarak sumber dan lama pemaparan gelombang ultrasonik terhadap rata-rata persentasi pola perilaku makan pasif belalang kembara
Tabel 5.6: Pengaruh frekuensi pemaparan gelombang ultrasonik terhadap rata-rata persentasi pola perilaku gerak pasif belalang kembara
Tabel 5.7: Pengaruh jarak sumber pemaparan gelombang ultrasonik terhadap rata-rata persentasi pola perilaku gerak pasif belalang kembara
Tabel 5.8: Pengaruh lama pemaparan gelombang ultrasonik terhadap rata-rata persentasi pola perilaku gerak pasif belalang kembara
Tabel 5.9: Pengaruh kombinasi frekuensi, jarak sumber dan lama pemaparan gelombang ultrasonik terhadap rata-rata persentasi pola perilaku gerak pasifbelalang kembara

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1: Susunan struktur tubuh belalang
Gambar 2.1: Gelombang ultrasonik datang normal pada bidang batas medium 1 dan medium 2
Gamber 2.2: Ketergantungan frekuensi pendengaran untuk bermacam- macam binatang
Gambar 2.3: Bagian tubuh belalang kembara
Gambar 2.4: Fase perkembangan belalang kembara
Gambar 2.5: Belalang kembara betina sedang meletakkan telur.
Gambar 2.6: Pencatu daya adaptor sederhana dan diagram
Gambar 2.7: Pencatu daya yang memakai dua buah silicon
Gambar 2.8: Pencatu daya untuk amplifier OCL
Gambar 2.9: Rangkaian pencatu daya untuk amplifier OCL
Gambar 2.10: Proses kerja flip-flop
Gambar 2.11: Rangkaian pembangkit gelombang persegi sederhana
Gambar 2.12: Model rangkaian pembangkit frekuensi gelombang ultrasonik dengan memakai IC
Gambar 3.1: Kerangka konseptual pemaparan gelombang ultrasonik terhadap pola perilaku makan pasif dan gerak pasif dalam pengendalian hama belalang kembara
Gambar 4.1: Model rancangan eksperimental laboratoris 58
Gambar 4.2: Kerangka Operasional pemaparan gelombang ultrasonik terhadap pola perilaku makan pasif dan gerak pasif dalam pengendalian hama belalang kembara
Gambar 5.1: Bagan rangkaian pemancar pembangkit gelombang ultrasonik

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Tabel Data Hasil Pengamatan Penelitian
Lampiran 2: Hasil Perhitungan Transmisi Gelombang Ultrasonik Antara Medium Udara Dengan Air/Jaringan Lunak
Lampiran 3: Hasil Analisis Variansi Rancangan Faktorial Terhadap Pola Perilaku Makan Pasif Belalang Kembara
Lampiran 4: Hasil Analisis Variansi Rancangan Faktorial Terhadap Pola Perilaku Gerak Pasif Belalang Kembara
Lampiran 5: Bagan Alat Pembangkit Frekuensi Gelombang Ultrasonik
Lampiran 6: Photo Kegiatan Penelitian

DAFTAR ISTILAH
Frekuensi : Jumlah getaran yang dipancarkan/dirambatkan setiap detik.
Faktor Penghambat : Merupakan tanaman yang berfunsi sebagai penghambat yang membentuk suasana seperti kehidupan habitatnya. Tanaman yang digunakan adalah padi, jagung, rumput gajah dan alang semak.
Gelombang Bunyi : Merupakan gelombang longitudinal dan arah rambatannya berimpit dengan arah getarnya dan dapat ditangkap atau didengar telinga.
Gelombang Ultrasonik : Gelombang getar dengan frekuensi di atas 20 kHz yang dihasilkan oleh pembangkit generator.
Perilaku : Tanggapan atau reaksi individu yang terwujud dalam gerakan (sikap).
Pemaparan: Proses cara pemberian sesuatu perlakuan.
Pengendalian Hama: Pengendalian populasi hama agar tetap di bawah satu tingkatan atau kerugian ekonomi.
Pola Perilaku Pasif : Pengamatan kepasifan yang tidak bergerak/diam di tempat dan diam berkelompok dengan anggota tubuh tidak bergerak kecuali antenanya.
Locusta migratoria L. : Merupakan satu-satunya spesies belalang yang mengalami fase transformasi dari sebanyak 51 spesies anggota famili Acrididae yang tercatat sebagai hama di Indonesia dimana L. = Linous adalah penemu jenis spesies Locusta migratoria.
 
 
   
 
>> PERAN DANA KUKESRA DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN USAHA ANGGOTA KELOMPOK UPPKS DI DESA TAWANGSARI KECAMATAN TERAS KABUPATEN BOYOLALI
>> Analisis Karakteristik Individu dan Karakteristik Organisasi Terhadap Peingembangan Karir Pegawai (Studi Kasus pada Kanwil VII Direktorat Jenderal Bea dan Cukai)
>> PENGEMBANGAN MODEL DATABASE SEBAGAI PENENTUAN INSENTIF BERBASIS PRESTASI KERJA STAF ADMINISTRASI DI LINGKUNGAN REKTORAT ITS
>> PENGARUH MOTIVASI KERJA DAN BUDAYA ORGANISASI TERHADAP KINERJA PEKERJA SOSIAL PADA UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS SOSIAL PROPINSI JAWA TIMUR
>> KOMITMEN ORGANISASI POLITIK PADA PARTISIPASI PEREMPUAN DI TINGKAT JAWA TIMUR
>> BUDAYA KERJA, KEMAMPUAN DAN KOMITMEN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI BIRO KEPEGAWAIAN SEKRETARIAT DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR
>> FAKTOR - FAKTOR DETERMINAN YANG MEMPENGARUHI PEMBERDAYAAN EKONOMI KELUARGA PADA PROGRAM GERDU TASKIN DI KABUPATEN JOMBANG
>> PENGEMBANGAN MODEL PENDIDIKAN BERBASIS KOMPETENSI DI PONDOK PESANTREN SUNAN DRAJAT LAMONGAN
>> PENGARUH STRES KERJA TERHADAP MOTIVASI KERJA DAN KINERJA KARYAWAN PT. H.M. SAMPOERNA Tbk SURABAYA
>> DAMPAK PROGRAM YAYASAN DAMANDIRI TERHADAP PEMENUHAN PENDIDIKAN ANAK DI KOTA SURABAYA
(Analisis Pada Keluarga Binaan Dengan Skim Pundi Kencana)
>> FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINERJA KEPALA DESA DALAM PELAKSANAAN TUGAS PEMERINTAHAN DESA DI KABUPATEN KATINGAN PROPINSI KALIMANTAN TENGAH
>> HUBUNGAN KONTROL DIRI DAN PERSEPSI REMAJA TERHADAP PENERAPAN DISIPLIN ORANG TUA DENGAN PROKRASTINASI AKADEMIK
>> STRATEGI PENGEMBANGAN "DANGKE" SEBAGAI PRODUK UNGGULAN LOKAL DI KABUPATEN ENREKANG SULAWESI SELATAN
>> PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KENTANG (Solanum tuberosum L.) YANG DIBERI PUPUK ORGANIK DIFERMENTASI, Azospirillum sp., DAN PUPUK NITROGEN DI PANGALENGAN DAN CISARUA
>> PERTUMBUHAN DAN HASIL RAMI (Boehmeria nivea (L.) Gaud.) YANG DIBERI RAW MIX SEMEN DAN MIKROORGANISME EFEKTIF M-BIO PADA TANAH GAMBUT
  
 
 




Home | Profil | Kontak Kami | Buku Tamu
Redaksi Damandiri : redaksi@damandiri.or.id
Copyright © 2003 Damandiri.or.id
designed by Gemari Online
Streaming Radio DFM Jakarta

Gemari Online